Watu Singa Bromo Melambangkan Karakter Suku Tengger: Lembut Seperti Kucing, Buas Seperti Singa

Watu Singa di Bromo, Probolinggo, Jawa Timur.

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id -  Watu Singa atau sebuah batu besar yang menyerupai singa yang sedang bersantai di lautan pasir Gunung Bromo, viral setelah Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar parawansa berfoto di spot Watu Singa yang berjarak 1 kilometer dari tangga menuju bibir kawah. 

Khofifah berpose di spot tersebut saat meninjau perbaikan pipanisasi air bersih bersama Pj Bupati Probolinggo Ugas Irwanto di Kecamatan Sukapura. 

Lantas bagaimanakah sejarah dan filosofi  Watu Singa tersebut di mata Suku Tengger?

Salah seorang tokoh Tengger yang juga kepala desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Sunaryono mengatakan bahwa bagi masyarakat Tengger Watu Singa merupakan batu yang menyerupai singa, harimau dan kucing. 

"Bagi kami Suku Tengger, baru tersebut menyerupai singa, harimau dan kucing," kata Sunaryono, Sabtu (4/11/2023). 

Menurut Sunaryono, Watu Singa sudah berada di lokasi tersebut sudah lama, bahkan sebelum Sunaryono lahir. Dia belum mendapatkan informasi pasti kapan batu besar itu ditemukan. 

"Watu Singa tersebut diukir oleh Tuhan Yang Maha kuasa dan sudah berada di sana entah sejak tahun berapa. Siapa yang mengukir batu tersebut? yang mengukirnya adalah Yang Maha Kuasa," jelas Sunaryono. 

Sunaryono menambahkan, Watu Singa memiliki filosofi dan melambangkan karakter Suku Tengger. 

Suku Tengger orangnya jinak seperti kucing, lembah lembut dan mencintai kedamaian serta menghormati sesama dan para leluhur. 

Namun ketika warga Tengger disakiti, dizalimi atau diganggu oleh pihak-pihak yang berkuasa atau memiliki kekayaan, maka kaum Tengger bisa marah dan buas seperti singa atau harimau yang diwujudkan dari Watu Singa tersebut. 

Tanpa menyebutkan ditujukan kepada siapa, Sunaryono mengingatkan agar pihak-pihak tidak macam-macam menyakiti atau mengganggu warga Tengger. Dia dan warga Tengger lainnya selama ini tertidur seperti kucing, akan bangun dan menjadi buas seperti singa menerkam siapapun yang mengganggu Suku Tengger. 

Watu Singa yang berada di kawasan Tengger tersebut juga dijaga dan dirawat oleh warga Tengger. Sebab seluruh kawasan Tengger disakralkan.

"Seluruh kawasan Tengger itu tempatnya disakralkan. Siapapun yang berdoa minta kekayaan atau kekuasaan pasti dikabulkan namun harus dibayar kepada Yang Maha Kuasa," imbuh Sunaryono.  

Suku Tengger tidak mempermasalahkan wisatawan mengabadikan momen di spot legend tersebut sebab Watu Singa merupakan bagian dari alam. Warga Tengger yang dekat dengan alam, sesungguhnya sedang mendekatkan diri kepada Tuhan.

"Saya tidak pernah memiliki foto sedang berpose dengan Watu Singa,  karena Watu Singa sudah ada di hati saya dan warga Tengger lainnya," tegas Sunaryono. ig/fa/nis

654

© . All Rights Reserved. Powered by beritakata.id