Warga Bondowoso Tasyakuran Khitan, Diwarnai Drumband dan Can-Macanan

Dokar hias, drumband dan Singo Ulung hibur warga Bondowoso.

BONDOWOSO, BERITAKATA.id - Sepanjang Jalan HOS Cokroaminoto Bondowoso pada Jumat (7/7/2023), tidak seperti biasanya. 

Pasalnya, ratusan masyarakat di pinggir jalan menyaksikan dan menikmati drumband dan kesenian tari Singo ulung. Ada juga dokar hias yang melengkapi suasana sore itu.  

Tak ayal hiburan gratis tersebut membuat jalanan sempat macet beberapa menit. 

Aksi drumband menghasilkan perpaduan musik yang asyik didengar. Sedangkan penampil Singo Ulung membuat suasana heboh dan menghibur. 

Usut punya usut, drumband dan tari Singo ulung yang juga dikenal dengan istilah can-macanan, didatangkan oleh warga kelurahan Kademangan, yakni M Ali Suryanullah. 

Di sepanjang jalan para pengendara dan motor juga menikmati hiburan tersebut. Hal itu terlihat saat mereka merekam atraksi dengan kamera handphone. 

Ratusan warga yang menyaksikan juga tak mau ketinggalan mengabadikan momen tersebut. 

Setelah menampilkan drumband dan Singo Ulung di jalan, para pelaku seni tersebut kemudian beratraksi di kampung tempat Surya tinggal. 

Menurut Surya, pihaknya mendatangkan hiburan drumband dan Singo Ulung sebagai tasyakuran setelah setelah mengkhitan putranya, M. Ali Gibran Afandi (5).

"Sebagai tasyakuran atas dikhitannya anak kami," kata Surya.

Gibran yang ditemani para sepupunya naik dokar hias keliling Bondowoso, diarak keliling kota. Sesampainya di traffic light Tamansari, dokar hias diarak oleh drumband dan Singo Ulung.

Diketahui, can-macanan alias Singo Ulung merupakan kesenian khas Kabupaten Bondowoso. Satu atau dua orang memakai kostum berupa singa yang menari-nari dan meloncat ke sana kemari. 

Kehebohan terjadi ketika singa tersebut mendekati warga yang merasa ketakutan tapi terhibur. ig/fa

853

© . All Rights Reserved. Powered by beritakata.id