Berbeda dengan NU Soal 1 Syawal, Ini Kata Ketua Muhammadiyah Kabupaten Probolinggo

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Probolinggo, Sigit Prasetyo

PROBOLINGGO, BERITAKATA.id - Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Probolinggo, Sigit Prasetyo mengatakan, perbedaan penentuan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri antara Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU) ataupun pemerintah adalah hal yang biasa.

Sigit menyebut, tak hanya di tahun 2023 ini, beberapa tahun kemarin pun perbedaan tersebut juga sering terjadi. Menurutnya, ini sudah menjadi keyakinan masing-masing pihak.

“Diharapkan apa yang diyakini, semua pihak bisa saling menghormati dan menghargai. Bahkan di suatu daerah itu ada satu lapangan yang bisa digunakan dua kali salat Id di hari yang berbeda. Pemerintah memfasilitasi untuk perbedaan itu dan patut dicontoh,” ujar Sigit, Selasa (18/4/2023).

Ia menambahkan, perbedaan ini jangan dijadikan hal yang memecah belah, tapi perbedaan inilah yang menjadi alat pemersatu, menghormati dan menghargai untuk menjalin ukhuwah islamiyah. Kehidupan yang beragam ini akan indah kalau saling menghormati apa yang sudah diyakini.

Diketahui, Muhammadiyah menentukan 1 Syawal 1444 Hijriyah jatuh pada Jumat (21/4/2023). Sigit menjelaskan, untuk menentukan itu, Muhammadiyah wajib mengikuti keputusan yang sudah diambil melalui Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

“Ini wujud kami taat kepada pemimpin, samikna wa atokna dan insya Allah kami juga menghargai saudara kami yang melaksanakan salat Id di hari yang berbeda. Ini bukanlah masalah dan semuanya saling mengerti dan paham,” tuturnya.

Terkait metode yang dipakai Muhammadiyah, Sigit memaparkan, semuanya memiliki pemahaman terkait ilmu astronomi atau ilmu hisab. Kalau di NU melalui Lajnah Falakiyah.

“Pada dasarnya sama. Cuma di sini kenapa kami menggunakan sistem hisab, karena perkembangan zaman ini memang berbeda dengan zaman di masa Rasulullah SAW. Tidak ada yang salah jika sebagian saudara kita menggunakan rukyatul hilal,” papar Sigit.

Muhammadiyah sendiri, lanjut Sigit, menggunakan wujudul hilal. Artinya, berapapun derajat yang apabila bulan sudah muncul di atas ufuk baik itu 1 derajat atau 1,5 derajat bahkan dua derajat itu sudah dikatakan bulan baru. Jadi perbedaanya hanya disitu. Sedangkan NU menggunakan rukyatul hilal yang syaratnya minimal 3 derajat. ig/fat

969

© . All Rights Reserved. Powered by beritakata.id